1Kanker payudara masih menjadi penyebab kematian pada wanita -akibat kanker- yaitu no.2 setelah kanker paru-paru. Namun kini, di negara-negara maju, kematian akibat kanker payudara telah menurun 40%. Hal ini terjadi karena kanker payudara telah dapat ditemukan lebih dini, sehingga penanganannya dapat dilakukan dengan cepat dan tepat. Disana, program deteksi dini telah menjadi sebuah keharusan.

Kewaspadaan terhadap gejala, bentuk keluhan yang dialami, hingga penanganannya dikupas secara tuntas oleh Dr. Bob Octovianus, SpB. dari Rumah Sakit Onkologi Surabaya dalam acara Workshop Peringatan Hari Kanker Payudara Sedunia kemarin, Selasa (6/10) bertempat di ruang Flashlounge Perpustakaan Kampus B Unair. Acara yang menarik perhatian 90 para wanita ini terselenggara dengan baik atas kerjasama Perpustakaan Unair, RS. Onkologi Surabaya, dan Reach to Recovery Surabaya (RRS).

"Sebanyak 70% orang Indonesa ketika datang periksa, sudah dalam stadium lanjut. Karena mereka tidak tahu bahwa benjolan tersebut adalah kanker", ungkapnya. Padahal, dengan ditemukannya kanker payudara dalam stadium yang lebih dini, harapan sembuh akan lebih besar dan wanita tidak perlu kehilangan payudaranya. Pada stadium dini, tingkat keberhasilan pengobatan kanker payudara mencapai 95.1%.

Untuk itu, pentingnya SADARI (perikSA payuDAra sendiRI) sejak dini, pada 7-10 hari setelah masa menstruasi dengan cara Lihat dan Rasakan. Lihat: (i) Berdirilah di depan cermin dengan kedua lengan tergantung lemas di sisi tubuh. Lihat apakah kedua payudara simetris? Adakah penonjolan/lekukan/tarikan pada kulit? Adakah perubahan warna kulit? Apakah puting payudara tertarik masuk? (ii) Angkat kedua tangan ke atas kepala, kemudian turunkan perlahan. Lihat apakah kedua payudara bergerak bersama dengan tarikan lengan? Atau salah satu payudara tampak tertinggal? (iii) Bertolah pinggang dan tekan kedua tangan pada pinggul Anda untuk mengencangkan otot dada. Lihat adakah perubahan bentuk? Adakah penonjolan/penarikan/lekukan pada kulit?

Rasakan: (i) Berbaringlah dengan beralas bantal tipis pada bahu Anda pada sisi payudara yang akan diperiksa, dan letakkan lengan di belakang kepala; (ii) Gunakan sisi datar jari-jari tangan yang berlawanan dengan sisi payudara yang akan diperiksa dan tekanlah dengan lembut. Usahakan agar seluruh area payudara terperiksa; (iii) Akhirnya, turunkan lengan Anda sejajar dengan tubuh dan rasakan kekenyalan payudara pada lipatan ketiak. Ulangi pemeriksaan pada sisi yang lain.

Dokter yang terlatih memiliki kepekaan yang lebih tinggi dalam mengetahui adanya kelainan pada payudara. Umumnya, benjolan yang dapat diraba oleh dokter berukuran lebih dari 1 cm, sedikit lebih kecil daripada yang dirasakan penderita. Data di RS. Onkologi menunjukkan bahwa wanita Asia terkena kanker payudara pada usia lebih muda, sehingga dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter dalam 6 bulan sekali.

Bila dokter tidak menemukan adanya kelainan dalam payudara, maka akan dilanjut dengan pemeriksaan Mamografi (skrining mamografi). Jika ditemukan kelainan, maka pasien akan dirujuk ke dokter bedah dan dilakukan pemeriksaan lanjut untuk memastikan jenis kelainannya.

2Antusias peserta semakin menggebu ketika Ibu Maylania, salah seorang penderita kanker payudara sejak tahun 2008 berbagi pengalamannya. Pengalaman syok ketika di vonis dokter bahwa kanker payudaranya telah mencapai stadium 2B, merasakan dan harus menahan sakitnya kemoterapi, hingga dihadapkan pada pilihan operasi pengangkatan payudara. Ilmu kedokteran turut mengikuti perkembangan jaman. Payudara beliau memang telah diamputasi, namun dokter bedah spesialis membantunya untuk me-rekonstruksi payudaranya kembali. Semua proses telah dilaluinya, berjuang untuk tetap hidup demi keluarga yang dikasihinya.

"Kanker bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Datang dan periksa pada waktu dan tempat yang tepat (breast center). Dan yang terpenting, jangan takut kehilangan payudara karena tidak semua kasus perlu amputasi", pesan Dr. Bob menutup workshop siang itu.(nad)

Hits 1535