Perpustakaan Universitas Airlangga Surabaya

20052016

Judul Buku:Panggil Aku Kartini Saja
Penulis:Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera
Resensor: Yuliana Ariandini

 

 

Jika menyebut nama “Kartini”, maka langsung terbersit di benak kita: seorang wanita berparas ayu, memakai sanggul, berkebaya putih, berkulit kuning langsat. Jika ditanya “siapa itu Kartini?”, pasti sebagian besar jawaban hanya berkisar antara pendekar emansipasi wanita, pejuang wanita yang menolak diperlakukan secara diskriminasi, dan hal-hal serupa lainnya. Tapi benarkah demikian? Benarkah Kartini yang bergelar Raden Ajeng itu hanya seorang pejuang emansipasi wanita? Apa saja sebenarnya yang dilakukan seorang Kartini? Siapa dia sesungguhnya?

“Panggil aku kartini saja” dari judul buku ini saja sudah tersirat sebuah kerendahhatian dari sosok yang diceritakan dalam biografi ini. Melalui buku ini, membawa kita lebih mengenal dekat sosok kartini dalam mata Pram. Meskipun agak sulit dan belum sempurna disebabkan minimnya biaya riset dan kesulitan pelacakan historisnya, terkait dokumen-dokumen yang dimaksudkan tak diketahui jejaknya. Juga narasumber di Belanda yang sulit dilacak.

Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis novel berlatar belakang sejarah, seolah menegaskan dirinya tetap konsisten mengangkat sejarah Indonesia, terutama zaman sebelum pergerakan nasional, seperti yang dilakukannya dengan menulis tetralogi pulau Buru yang terkenal itu.

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora pada 6 Februari 1925. Selain sebagai pengarang, bermacam profesi telah dijalani Pramoedya seperti juru ketik Kantor Berita Dome (1942-1944), wartawan majalah Sadar (1947) dan kenber "Lentera" suratkabar Bintang Timur (1962-1965), dan dosen di Fakultas Sastra Universitas Res Publica (1936-1965) serta di Akademi Jurnalistik Dr. Rivai (1964-1965). Menulis sejak di bangku sekolah dasar, hingga kini Pramoedya telah menghasilakn tidek kurang dari 35 buku, fiksi maupun nonfiksi.

Dalam buku ini Pram memulainya dengan kekalahan perang diponegoro, yang berlanjut ke politik tanam paksa Van den Bosch yang menyengsarakan rakyat berkali lipat. Lalu penjelasan tentang silsilah kartini dan para leluhurnya yang termasuk dalam kaum ksatria, sehingga bila disejajarkan menurut kasta hindu yang artinya termasuk golongan bangsawan. Kemudian masuk ke masa kelahiran, masa kecil, bersekolah, hidup dalam pingitan hingga kembalinya kebebasan kartini untuk melongok dunia luar yang mendekatkan dirinya pada kotanya, Jepara. Beranjak dewasa, ditemani buku semasa dalam pingitan yang sebenarnya juga merupakan pelarian dirinya atas keresahan budaya pingitan jawa, sehingga ia beralih ke dunia pustaka. Kartini mulai melihat adanya perbedaan, jurang pemisah antara kelompok pribumi dan belanda. Kemiskinan, sistem kasta yang berlaku terutama di kalangan pribumi/jawa sendiri. Feodalisme yang membuatnya resah mengenai dunia pribumi yang dikenalnya. Sedang pada saat bersamaan, ia mengenal dunia barat dan menguasai alatnya, yaitu bahasa belanda. Ia temukan setitik jalan keluar bagi bangsanya melalui bacaan, dan budaya barat yang dalam hal ini diwakili oleh eropa atau Belanda khususnya di Indonesia--sebagai kekuatan terbesar di zamannya.

Kartini berjuang melalui seni. Seni utama yang ia kuasai tentulah mengarang. Namun ia juga menghayati seni membatik, melukis, bermusik, dan menggagas kehidupan yang lebih baik untuk para seniman di Jepara. Berkat dirinya pula, Jepara dikenal akan ukirannya oleh orang Belanda. Kemudian Pram menutup buku ini dengan menjelaskan sedikit tentang kondisi kejiwaan kartini. Tentang pandangannya akan Tuhan, yang pada masa itu ia mengakui bahwa ilmu agama tak dipelajari dengan baik. Maka meski menganut Islam, Kartini tidak menutup diri akan beragam pengetahuan agama lain selain itu dikabarkan ia juga menguasai Injil. Ia berpegangan bahwa Tuhannya adalah kebajikan dan cinta, lebih pada kebatinan. Bahkan, disinyalir ia memiliki kemampuan berbicara dengan roh dan bertelepati. Pada akhirnya, ia mengedepankan akal/ilmu sebelum beribadah. Kartini cukup kritis dan memiliki daya observasi serta intelegensi yang cukup tinggi bagi wanita sebangsanya di masa itu.

Ini memang bukan murni buku biografi semata. Di dalamnya ada banyak interpretasi Pram tentang Kartini beserta kondisi sosial budaya yang menyertainya. Karena itu tak berlebihan rasanya jika dikatakan buku ini lebih merupakan pembahasan Pram mengenai sosok Kartini dan pemikiran-pemikirannya. Bahkan Pram berani berpendapat bahwa Kartini bukan sekadar pejuang emansipasi wanita, melainkan juga pemikir modern Indonesia yang pertama! Menurut Pram, tanpa adanya sosok Kartini, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin terjadi.

Kartini menggambarkan masyarakat pribumi di masanya sebagai rimba-belantara yang gelap gulita. Obor-obor yang diharapkannya jadi penerangan dalam kegelapan itu, tanpa malu-malu diakuinya adalah intelektualitas Eropa, yang belum juga dimiliki oleh kaum pribumi. “Dengan intelektualitas Eropa itulah, rimba-belantara yang gelap-gulita itu akan menjadi padang luas yang terang-benderang bagi setiap orang.” (hal. 53). Dari situlah Kartini ingin membantu memajukan negeri dan masyarakatnya sendiri, seperti pengamatan Pram, “…di sanalah (Eropa) Kartini akan dapatkan segala alat yang diharapkannya dapat dikuasainya buat negeri dan rakyatnya kelak.” (hal. 154)

Pada bab terakhir, Pram mencoba menguraikan kondisi kejiwaan Kartini—sesuatu yang jarang diketahui publik. Ada sesuatu dari kisah hidup Kartini yang menarik perhatian Pram: hubungan Kartini dengan ayahnya, bupati Jepara, R.M. Adipati Ario Sosroningrat. Pram menganggap, meski sangat menyayangi ayahnya, sebenarnya Kartini keberatan (meski tak kuasa menolak) berbagai perlakuan feodal sebagaimana layaknya yang terjadi di zaman itu. Jadi, hubungan Kartini dengan ayahnya bisa dibilang hubungan “benci tapi rindu.” Sebagai anak bupati, Kartini mendapat perlakuan sebagaimana layaknya anak golongan bangsawan lainnya, dan ia tak menyukai perlakuan istimewa itu. Ini tercermin jelas di surat-surat Kartini yang ditampilkan Pram. Secara gamblang Pram menyebutkan bahwa Kartini menolak sistem feodalisme Jawa yang berkembang pada masa itu. Bentuk penolakan itu tampak jelas dari keinginannya untuk dipanggil tanpa gelar bangsawan atau panggilan kebesaran, seperti termuat di salah satu suratnya ke Estelle Zeehandelaar tertanggal 25 Mei 1899 yang berbunyi: “Panggil aku Kartini saja—itulah namaku.” (hal. 231)

Meskipun penerbit Lentera Dipantara memasukkan buku ini ke dalam genre biografi, sesungguhnya Pram tidaklah menceritakan secara runtut kehidupan Kartini dari lahir sampai meninggalnya. Pram lebih menggali nilai sejarah dan kemanusiaan dari masa-masa yang telah dilewati oleh Kartini, yang tergambar terutama dari surat-suratnya kepada teman-teman koresponsinya. Selain itu, Pram juga menyinggung beberapa karya kesenimanan kartini, seperti beberapa lukisan yang dihasilkan pada masa Kartini dipingit.

Melalui buku ini Pram berusaha mengajak pembaca untuk memahami ulang sejarah bangsanya sendiri. Karena menurut Pram, “Keengganan kita berguru pada sejarah telah membuat kita terlempar pada keranjang sampah peradaban.” Pramoedya telah berhasil membuat saya mengerti pada akhirnya perjuangan Kartini yang sesungguhnya. Meskipun, sedikit banyak saya perlu melakukan pencarian sendiri tentang riwayat hidup Kartini, karena Pramoedya tidak secara detail merunutkan kehidupan Kartini di sini. Dia mengambil pendekatan dengan mencoba menafsirkan pola berfikir Kartini melalui surat-surat dan runutan kejadian saat itu.

Buku ini dapat ditemukan di Perpustakaan Universitas Airlangga dengan call number “KKB NBC 920.72 Toe p”, dengan lokasi di lantai 3 bagian koleksi Nasional Building Corner yang ada di kampus B. Buku ini sangat baik dan mudah dicerna. Sebab Pram mengemasnya dengan apik, dan ada banyak catatan kaki sehingga kita tidak bingung dengan catatan sejarah yang disajikan. Saya menyarankan buku bacaan ini kepada siapapun yang ingin tahu sejarah, yang mencari sosok figur teladan, dan kepada yang ingin maju dan berani! Akan termotivasi oleh tokoh ini. Selamat membaca!!

Hits 20046