Menerjang Batas, Mengejar Impian

3 24112016Buku ini sangat unik, pertama karena ditulis oleh mereka yang barangkali bukan penulis professional, namun mereka adalah orang-orang hebat yang memiliki mimpi, cita-cita, dan keteguhan yang akhirnya berbuah kesuksesan. Kedua, buku ini memberikan bukti bahwa untuk sekolah di luar negeri kini tak hanya bagi mereka kaum elite pemilik uang, pemilik akses informasi terkini, serta yang tinggal di kota-kota besar. Buku ini merangkum berbagai refleksi mengenai perjuangan orang-orang yang sama sekali jauh dari gambaran ideal tersebut.

Buku ini adalah kumpulan tulisan para alumni penerima beasiswa International Fellowships Program (IFP) dari Indonesia yang berisi pengalaman-pengalaman mulai dari proses mencari beasiswa, menjalani studinya di luar negeri, hingga kembali ke tanah air untuk mengabdi pada ibu pertiwi. Menempuh pendidikan di luar negeri melalui jalur beasiswa adalah kesempatan emas. Sudah menjadi keharusan moral untuk membagikan pengalamannya kepada khalayak. IFP adalah program beasiswa yang disponsori oleh The Ford Foundation di 22 negara, termasuk Indonesia. Program ini memberi kesempatan studi S2 dan S3 di luar negeri terutama bagi mereka dari kelompok masyarakat terpinggirkan.

Fitriyah Kartini, berkhayal tingkat tinggi untuk bisa sekolah lagi di Eropa. “Aduh kamu Pit, sudahlah jangan mengkhayal terlalu tinggi. Kamu selesai sekolah saja sudah beruntung”, tawa canda Ibunya. Perlahan tapi pasti, ia mencoba ‘serius’. Melalui seleksi dari 30 peserta, ia terpilih untuk ditempatkan di desa-desa tertinggal di wilayah Lombok Timur sebagai motivator dan fasilitator. Untuk pertama kalinya ia bekerja di tengah masyarakat. Tugasnya adalah memberdayakan kembali kelompok-kelompok tani di sebuah desa yang terlalu lama vakum. Tak sedikit kendala yang ditemui. Mulai para anggota kelompok yang bekerja sebagai buruh migran di luar negeri, dana kelompok yang digunakan untuk kepentingan pribadi, hingga anggota fiktif. Delapan bulan kemudian, ia mengundurkan diri karena kondisi kesehatan yang menurun. Keinginannya bersekolah di luar negeri semakin meluap. Cara yang paling mungkin dilakukannya adalah mencari beasiswa, ia pun mencoba beasiswa Chevening dari British Council. Tahapan pertama, ia dinyatakan gagal pada tes Bahasa Inggris di Bali. Padahal untuk biaya pesawat dan akomodasi harus merogoh kocek nya sendiri. Lalu, ia pun mencoba mendaftar IFP-Ford Foundation. Seminggu kemudian, kabar diterima jika ia lolos seleksi dan harus ke Bali lagi untuk mengikuti tes Toefl di Universitas Udayana (UNUD). Tahapan demi tahapan dilaluinya. Hanya satu alasan mengapa ia tetap bersedia melakukannya, karena ia tidak merugi banyak, semua biaya transportasi dan akomodasi ditanggung Ford! Wah…

Akhirnya kabar yang dinantikan datang juga. Ia terpilih menjadi Fellow Elect Beasiswa IFP-Ford. 10 bulan kemudian, tepat di akhir November 2003 ia berangkat ke Belanda, negara impiannya. Sebelum benar-benar kuliah dengan perpaduan ilmu teknik dan ilmu sosial di program Msc MAKS (Management of Agro-Ecological Knowledge and Social Change) di Wegeningen University ini ia harus mengikuti pelatihan pembekalan selama 3 bulan di Maastricht, untuk persiapan mengikuti ujian IELTS. Dan ia pun lulus ujian tersebut. Fitri, begitu akrab dipanggil, di semester pertamanya ada dua matakuliah yang ia anggap gagal. Ia terkena sindrom ketegangan urat syaraf yang mengharuskannya menjalani fisioterapi sebanyak enam kali. “Inilah salah satu culture shock yang harus dihindari oleh pembaca sekalian bila Anda berkesempatan kuliah di luar negeri”, sarannya.

Menurutnya, keberanian mendebat dosen, mengungkapkan pendapat secara bebas, dan mengekspresikan diri sendiri tanpa takut celaan dari orang lain adalah hal-hal positif yang ia dapatkan selama belajar disana. Termasuk disiplin dalam urusan waktu seperti jam masuk, coffee break, dan selesai perkuliahan yang selalu tepat waktu.

Ia terlihat begitu menikmati masa studinya. Berkuliah di Belanda sukses pula mengantarnya menjelajahi beberapa negara Eropa saat libur kuliah. Bahkan, tugas lapangannya membawanya hingga ke Romania dan Budapest! Tentu saja, gratis!

Perasaan syukur dan lega ia peroleh setelah berlangsungnya sidang tesis. Perjuangannya selama 4 tahun, terbayarkan dengan perolehan gelar MSc. “Kehilangan seorang teman dekat yang tiba-tiba divonis mengalami malfungsi ginjal, membuat saya tersadar akan arti hidup. Layaknya bangau terbang, kami pun harus pulang. Mengabdikan apa yang saya dapatkan, bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk orang-orang yang membutuhkan adalah tujuan akhir saya. Saya makin bersemangat untuk mempersembahkan yang terbaik untuk Indonesia” tutupnya.

Fitriyah Kartini kini telah sukses karena khayalan tingkat tingginya. Fitriyah Kartini, adalah salah satu kisah dari 25 kisah inspiratif yang dihadirkan di buku ini. Simak kisah tokoh inspiratif lainnya dengan membaca buku ini secara lengkap. Buku ini tersedia di Ruang Koleksi Khusus Kampus B, dengan call number 158 Men. Selamat membaca dan semoga semakin terinspirasi untuk studi lanjut!

Hits 612