Strategi Menulis untuk Call For Paper

IMG 1768 2Karya ilmiah merupakan bagian dari kegiatan utama seorang pustakawan menulis demikian paparan Ibu Endang Fitriyah Mannan, S.Sos., M.Hum. dosen Vokasi (PSTP) Universitas Airlangga membuka lokakarya dengan judul “Strategi menulis karya ilmiah untuk call for paper. Lokakarya ini dibuka oleh Sekretaris Perpustakaan Universitas Airlangga Ibu Suhernik, S.Sos., M.Si. Lokakarya ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Perpustakaan Universitas Airlangga yaitu call for paper yang akan dilaksanakan Bulan Mei 2017.

Menurut Endang, menulis karya ilmiah merupakan bagian dari diseminasi karya ilmiah. Diseminasi bertujuan untuk mempercepat penerimaan suatu pesan yang mudah dipahami oleh pengguna (pengguna antara dan pengguna akhir) tentang suatu informasi baru. Seorang pustakawan diharapkan tidak hanya bergelut dengan kegiatan teknis semata namun sesuai dengan Lampiran Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002 yang diperbaruhi dengan Peraturan Kepala Perpustakaan Republik Indonesia no 11 tahun 2015. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa menulis merupakan bagian kegiatan yang wajib dilakukan oleh pustakawan.

Berkaitan dengan topik penulisan maka seluruh kegiatan dan bagian di perpustakaan dapat menjadi topik penelitian. Selanjutnya beliau mengungkapkan topik-topik penelitian yang sering dihasilkan bidang perpustakaan. Literasi informasi dan perilaku penemuan informasi adalah topik-topik yang diminati oleh mahasiswa ilmu perpustakaan. Menurut Endang, masih banyak topik yang belum “dieksplore” dan diteliti oleh pustakawan misalnya dalam pengelolaan bahan pustaka dan hak cipta.

Terkait dengan teknik penulisan, maka peneliti harus memahami teori apa yang mau dipakai. Teori ini sifatnya wajib ada dan peneliti harus mencari teori yang tepat sesuai dengan topik penelitian. Pada kesempatan ini, Endang juga menunjukkan beberapa contoh teori yang dapat dipakai. Misalnya Briet mengenai teori dokumentasi dokumen, Heany mengenai teori pengkatalogan, Ingwersen mengenai teori model interaksi dalam temu kembali informasi dan masih banyak teori yang lainnya.

Call for paper dapat diadakan di dalam negeri dan di luar negeri. Bagi pemula silakan mencoba yang dalam negeri atau pula langsung mencoba yang luar negeri. Banyak sekali call for paper yang saat ini digelar dalam bidang kepustakawanan yang dapat dicoba oleh pustakawan atau orang yang tertarik mendalami bidang kepustakawanan. Dalam pemaparannya, Endang menyatakan bahwa, “Mengikuti call for paper merupakan sarana bagi pustakawan untuk mempresentasikan ide dan gagasan serta memiliki dampak positif bagi peneliti yaitu dapat jalan-jalan gratis di dalam maupun di luar negeri”. Untuk itu pustakawan harus bersemangat mengikuti call for paper.

Pembicara kedua, Bapak Listyono Santoso, S.S.,M.Hum. membawakan tema Menulis Karya Ilmiah: (judul, abstrak, kata kunci). Karya tulis ilmiah atau biasa disingkat kaya ilmiah (scientific paper) merupakan suatu gagasan faktual yang didukung dengan bukti empiris yang berasal dari hasil peneltian ilmiah atau kajian pustaka secara tertulis dan menggunakan ragam bahasa ilmiah. Karya tulis ilmiah dapat berupa 1. hasil penelitian (mis. Penelitian Lapangan); 2. hasil pengamatan (mis. Pengamatan tentang  pelaksanaan kebijakan di perpustakaan nasional, dll.); 3. hasil pemikiran/gagasan; 4. hasil studi pustaka; 5. Karya berupa essay, artikel di media mass, dsb. Komponen karya ilmiah meliputi 1. Judul karangan ( Title ); 2. Nama dan lembaga pengarang ( Authors & Institutions ); 3. Abstrak ( Abstract ); 4. Isi Naskah ( Text ); terdiri atas  pendahuluan ( Introduction ); metode ( Methods ); hasil ( Results ); diskusi ( Discussion ). 5. Ucapan terima kasih ( Acknowledgments ); 6. Daftar pustaka ( References ).

Selanjutnya, Listyono mengungkapkan mengenai cara menulis karya ilmiah yang baik. Tulisan yang baik dapat diketahui melalui abstrak. Abstrak ( Abstract ) merupakan inti sari karangan yang paling sering dibaca setelah judul. Abstrak merupakan alat screening dan miniatur suatu naskah. Penyusunan abstrak yang baik sangat membantu dalam mengenali isi naskah sehingga informasi naskah dapat secara cepat & tepat  diketahui pembaca. Peneliti harus memahami abstrak dibuat setelah karangan lengkap selesai. Menurut Listyono, menulis itu mudah dan menyenangkan asal dilakukan secara kontinyu. Menulis dapat memperkaya wawasan penulisnya selain itu menulis dapat juga menghasilkan koin yang lumayan. Untuk itu, pustakawan harus mencoba menulis dari sekarang.

Hits 10318