Risma sang Nahkoda Surabaya

30122016 1Siapa yang tak kenal dengan Tri Rismaharini atau yang akrab dipanggil Bu Risma, sosok perempuan hebat dan fenomenal dengan segudang prestasi dunia. Pemimpin yang satu ini memiliki karakter dan kepribadian yang unik, sederhana dan nyentrik dalam menjalankan perannya. Maka tak heran jika rakyat Indonesia terkagum-kagum dengannya. Bukan berlebihan jika Risma diibaratkan sebagai Ratu Bilqis masa kini.

Di bawah kepemimpinannya, kini Surabaya menjelma menjadi kota yang lebih besar dan hebat. Ia tak segan untuk turun tangan langsung menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di lapangan dan mengeceknya dengan detail, satu sikap yang saat ini sangat jarang dilakukan oleh kebanyakan pemimpin di Indonesia ini. Beberapa kebijakannya yang fenomenal tak jarang mendatangkan tentangan dari berbagai pihak, namun ia berprinsip, selama apa yang ia lakukan berada di jalan yang benar dan pro terhadap rakyat, maka ia akan terus maju.

 

Risma lahir di Kediri pada 20 november 1961.ia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahnya bernama M.Chuzaini sedang ibunya Siti Mudjiatun. Ia banyak belajar tentang kehidupan dari kedua orang tuanya tersebut. Ayahnya memiliki karakter yang sangat keras dan berdisiplin tinggi. sebaliknya, sang ibu memiliki berkepribadian lembut. Risma dikenal sebagai sosok yang cerdas, bahkan hal itu sudah terlihat ia masih kecil. Ia juga dinilai oleh banyak kalangan sebagai seorang pemimpin yang lugu, tulus dan jujur. Ia tidak silau dengan harta, hingga tidak dapat ditembus oleh uang-uang suapan.

 

Dalam setiap agenda blusukannya, Risma tak  pernah mengajak awak media untuk mempublikasikan kegiatannya. justru, bila ada para wartawan yang mengikuti agenda blusukannya, ia sangat rishi karena pada saat itulah, kesempatan risma untuk benar-benar memikirkan solusi bagi permasalahan rakyatnya, bukan malah terganggu oleh pertanyaan dan sorot kamera media. Bahkan, mungkin masih terngiang dalam ingatan kita, ia pernah memiliki masalah dengan insan jurnalis.

 

Risma bukanlah seorang wanita yang suka berdandan menor sebagaimana yang terkadang ditampilkan oleh para eksekutif wanita di negara ini. Peneliti politik senior dari lembaga ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI). Siti Zuhro, menyatakan “Bu Risma itu luar biasa, seorang perempuan yang bersahaja tak memperhatikan fashion, tanpa basa-basi sangat sederhana. Meskipun demikian, perilaku risma selama menjabat sebagai wali kota Surabaya telah memancarkan aura tersendiri. Inner beauty terlihat jelas darinya.

 

Risma dikenal sebagai seorang pemimpin yang tidak mengenal kompromi. Ia tak segan-segan marah meski disorot media televisi, Risma mengakui pengalamannya memimpin itu lebih didasari oleh semangat pengabdian dan perasaan “halus” seorang wanita. Ia terbiasa berangkat kerja pada pukul 05.30 pagi, namun tidak langsung menuju kantornya, melainkan keliling kota terlebih dahulu. Dalam perjalanannya risma selalu menemukan sesuatu di jalan. Risma juga menuturkan, saya akan merasa puas dan senang kalau pekerjaan bisa berjalan baik, itu yang membuat saya bersemangat.

 

Pada awal-awal menjabat sebagai walikota, 20 kiai telah mendatangi Risma meminta agar lokalisasi yang ada di Surabaya ditutup. Hingga pada suatu ketika, ia mendapatkan informasi semakin banyak trafficking yang korbannya adalah anak-anak yang masih berusia sekolahan. Berdasarkan fakta-fakta yang Risma temukan di lapangan, utamanya di lokalisasi, ia pun memutuskan untuk menutup lokalisasi-lokalisasi di Surabaya. Tekadnya sudah bulat, ia tidak ingin generasi masa depan bangsa ini menjadi rusak akibat adanya lokalisasi. Risma tidak main-main. Ia terus melakukan koordinasi dan menjalin komunikasi dengan pihak pemerintah kota serta beberapa lembaga lain untuk dapat segera menutup lokalisasi yang ada di Surabaya.


Buku “Risma : Perempuan Hebat dan Fenomenal” mengupas dan membahas secara menyeluruh tentang sosok fenomenal ini, mulai dari masa kecil hingga masuk dunia politik, lika-liku menuju Surabaya Satu, gaya kepemimpinan, karakter dan pribadi Risma, prestasi nasional dan internasional, serba-serbi kisah dari lokalisasi Surabaya, alasan Risma menolak tol tengah kota Surabaya, keresahan Risma dengan wakil wali kota yang baru, petisi save Risma, dukungan dari elit politik, dll. Semoga Risma menjadi sosok pemimpin inspirasional sehingga ke depan Indonesia bisa melahirkan pemimpin-pemimpin hebat yang bisa membawa Indonesia menuju kejayaan. -

Baca secara lengkap bukunya di Bagian Referens Perpustakaan Universitas Ailangga Kampus B dengan nomor 920 Bud r-1. Selamat Membaca.

Hits 3029