03022017Rae Sitta menulis 15 cerpen dengan tema yang berbeda dalam buku ini. Masing-masing memberi kejutan di awal hingga akhir. Kalimat yang diambil efektif dan juga membuat pembaca anak-anak seakan menemukan pertanyaan yang menakjubkan untuk seusianya. Misalnya saja di bagian cerita berjudul “Teka Teki Yuri” ada beberapa pertanyaan yang Yuri ajukan pada ayahnya, sebuah  tebak-tebakan yang berakhir dengan ucapan selamat ulang tahun dan kado. Siapa sangka ternyata anak sekecil Yuri bisa mengumpulkan uang selama tiga minggu untuk memberi ayahnya sebuah kado yang ia beli dengan uangnya sendiri. 

Berikut salah satu cuplikan cerita dalam buku ini:

Apa susahnya memberi sedikit senyum, Biskuit Pemalu? Bukankah senyum biskuit bisa terbentuk cukup dengan menarik sedikit kedua sudut bibir ke atas?  Semudah itu kelihatannya. Tapi, kali ini ia merasa seperti sekeping biskuit yang berada di permukaan stoples yang penuh. Ia tak dibutuhkan dan stoples itu tak bisa ditutup. Biskuit lain pasti ingin ia keluar sesegera mungkin.  Ah, perasaan-perasaan seperti itu membuat senyum sangat sulit dilakukan. Apalagi ketika reaksi dari senyum yang coba ia berikan, ternyata jauh dari harapan.

Senyum Biskuit adalah salah satu dari 15 cerita dalam buku tadi. Jika teman-teman suatu saat punya kesempatan membaca  buku ini, usahakan mulai dari Kata Pengantar-nya. Bagian favorit saya dalam pembuka itu adalah saat penulis menanyakan “Apa biskuit bisa tersenyum? Bisa.” Lalu, “Apa sih yang tidak mungkin terjadi? Semua hal bisa dialami oleh siapa pun dan membuat kita merasakan banyak hal yang tak terduga.”

Penulis juga tidak berbohong saat mengingatkan bahwa kisah-kisah di dalam buku ini akan membuat kita terkenang pada masa-masa hari pertama di sekolah baru, memberikan benda yang sebenarnya paling kita inginkan, sibuk menyusun rencana ikut sebuah lomba, bermimpi tentang hal yang paling kita takuti, mengenal seseorang yang berkesan lalu kehilangan, juga marah pada teman baik atau duduk sebangku dengan seorang anak guru.

Sekarang, jika kita refleksikan cerita-cerita itu, bukankah masalah yang kita hadapi sekarang (saat sudah dewasa) tidak jauh berbeda dengan yang kita alami sebagai kanak-kanak dulu? Kita selalu mencoba fit-in dalam lingkungan baru. Kita merasa sayang ketika memberikan/kehilangan benda yang kita sebenarnya sangat sukai. (walaupun ketika dewasa kita ditambahi kesadaran bahwa semua benda pada awalnya bukan milik kita) Kita sibuk “berlomba” dalam banyak hal. Kita takut dengan banyak hal. (bahkan lebih banyak dibanding dengan yang kita takuti ketika kecil dulu) Kita kehilangan orang yang kita sayangi.

Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan ketika membaca buku ini. Misalnya, tentang arti sebuah senyuman seorang anak kecil yang dipanggil oleh kakaknya dengan sebutan “Biskuit Pemalu”. Iya karena ia sangat pemalu untuk berkenalan dengan teman-teman barunya di sekolah baru. Anak yang dipanggil Biskuit Pemalu itu diajari oleh kakaknya untuk selalu menyunggingkan senyum pada setiap anak yang ia temui di sekolah. Hanya saja, ternyata senyumnya disalahartikan sebagai sebuah tanda yang berbeda. Salah satu anak yang ia temui mengira ia kelaparan dan yang satu mengira ia ingin meminjam buku. Sehingga memberi es krim dan meminjamkan buku yang mereka miliki. Semakin penasaran sama buku imut dan lucu ini kan, ayo cari buku ini di lantai 3 ruang baca umum koleksi kampus B dengan nomor klasifikasi 801 Pat s-1 ada banyak kejutan menanti, yang akan membuat kita bernostalgia dengan masa kecil kita. Selamat membaca! (Lia)

Hits 438