06022017Belajar dari Cina ditulis oleh dr I Wibowo yang merupakan alumni Universitas Indonesia dan University of London dalam bidang politik Cina. Judul Belajar dari Cina sengaja dipilih untuk merepresentasikan bagaimana Cina memiliki strategi yang hebat sehingga pantas untuk ditiru oleh negara lain. Dari negara komunis kental dan menutup diri, Cina melakukan lompatan dengan semboyannya ‘gaige kaifang’ atau reformasi dan membuka diri. Gaige kaifang inilah yang menandai langkah besar Cina untuk masuk ke dalam arena globalisasi, yang juga mengarah pada westernisasi. Penulis mengatakan bahwa antusiasme Cina begitu besar untuk menyambut era kapitalisme demi memperoleh kejayaan ekonominya. Bahkan tak jarang yang menyebut Cina telah berubah haluan ideologinya menjadi sebuah negara kapitalis. Tapi tentu saja para petinggi Cina tetap bersikukuh bahwa Cina masihlah sebuah negara kapitalis, dan sistem ekonomi yang dianutnya tak lain adalah bentuk dari sistem ekonomi pasar sosialis.

Belajar dari Cina ini mengambil suatu negara yang sebenarnya suksesnya terlalu dibesar-besarkan yaitu Cina. ‘Exaggerating the China Threat’ adalah artikel panjang yang diturunkan Far
Eastern Economic Review yang menunjukkan bahwa investasi global yang diterima oleh Cina lebih kecil daripada yang diterima oleh Singapura, Hong Kong, Vietnam, dan Thailand. Dengan Malaysia sama (hlm. 41). Berdasarkan hal itu, Dr. I Wibowo mengambil kesimpulan: “ancaman Cina” mungkin lebih terasa tapi ini bukan karena Cina yang hebat. Indonesia sendiri yang kalah bersaing, tidak mampu menyediakan fasilitas menarik bagi investor asing. Menarik sekali bahwa pendapat ini diterbitkan tidak terlalu lama berselang yaitu tahun 2003 di Majalah Trust.

Jika kemudian iklim usaha Indonesia dan Cina dibandingkan (Kompas, 26 Agustus 2002) akan tampak bahwa Indonesia ketinggalan terutama pada bidang Polkam (kepastian hukum dan keamanan) dan Ketenagakerjaan (peraturan, upah buruh, serikat pekerja, dan produktivitas). Sementara di bidang Moneter dan Fiskal, Energi, dan Infrastruktur Indonesia relatif bersaing dibandingkan Cina.

Perbandingan di mana Indonesia ketinggalan adalah sebagai berikut. di bidang polkam kepastian hukum dan keamanan di Indonesia tidak pasti sedangkan di Cina pasti. Keterangannya: kondisi polkam Indonesia tidak stabil, bahkan indeks country risk cenderung meningkat, ditandai dengan sering terjadi kerusuhan, penjarahan pabrik, keamanan lingkungan yang memprihatinkan. Di Cina, kondisi polkam relatif stabil. Di Indonesia nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sangat rentan dengan isu politik dan keamanan.

Di bidang ketenagakerjaan, peraturan di Indonesia tidak jelas sementara di Cina jelas. Upah buruh di Indonesia jelas, di Cina jelas. Serikat pekerja di Indonesia banyak, di Cina tidak ada. Produktivitas di Indonesia 60%, di Cina 80%. Keterangannya: Peraturan ketenagakerjaan berubah-ubah sebagai contoh kasus Kepmen No. 150/2000, menyebabkan kerusuhan buruh 14 Juni 2001 di Bandung. Hubungan industrial antara pengusaha dan buruh di Indonesia masih belum harmonis sehingga seringkali menimbulkan masalah-masalah ketenagakerjaan yang
berlarut-larut. Jumlah serikat pekerja yang terus bertambah membutuhkan energ
i ekstra pengusaha untuk mengelolanya dengan baik. Demo buruh cenderung meningkat
di Indonesia.

Kalau mencari jawaban dengan membaca buku ini, maka pembaca akan menemui terlebih dahulu bahwa sejarah Cina benar-benar kompleks, berkelok-kelok, penuh kejutan di sana-sini, peristiwa berdarah dan pergolakan nilai, yang semuanya diramu oleh Dr. I Wibowo dalam lima bagian. Lima bagian tersebut berjudul: Cina dan Globalisasi, Keajaiban Ekonomi Cina, Alih Generasi Pemimpin Cina, Sisi Lain Cina, dan Penutup. Ketua dari Center for Chinese Studies ini juga menambahkan Kronologi Politik Cina: Era Deng Xiaoping-Hu Jintao 1976-2003.

Hasil dari upaya Cina untuk merombak ekonominya ini membuat Cina mampu meraih pertumbuhan ekonomi rata-rata hingga 7% per tahunnya. Ini adalah angka yang fantastis bagi sebuah negara berkembang dan baru bangun dari keterpurukan ekonomi, bahkan bagi negara maju sekalipun. Tentu saja prestasi inilah yang hendak ditunjukkan oleh penulis sebagai bukti bahwa belajar dari Cina adalah hal yang pantas.

Belajar dari Cina, mengulas dengan rinci mengenai pergeseran ideologi Cina yang seolah melakukan transformasi dari ideologi komunisme yang kental sebelum tahun 1970an, menjadi seolah terselubung dengan kapitalisme. Cina merombak apa-apa yang ada di dalam negaranya, termasuk membiarkan banyak pengusaha swasta terlibat, membiarkan investasi asing masuk, hingga bergabung bersama organisasi perdagangan dunia.

Belajar dari Cina, memang lebih fokus pada ulasan ekonomi dan politik, namun ada juga pelengkap pengetahuan mengenai sisi lain kehebatan Cina. Sisi lain  adalah tentang bagaimana Cina harus menghadapi berbagai permasalahan sosial dalam negerinya. Ada banyak pekerjaan rumah bagi Cina untuk diperbaiki seperti masalah buruh, pencemaran lingkungan, penyakit menular yang mematikan, hingga ketimpangan sosial. Dengan demikian, para pembaca akan diajak untuk secara lebih mendalam mengenali Cina sampai selanjutnya, bisa belajar dari Cina.

Sederhananya, kalau dikatakan bahwa demokrasi adalah syarat bagi pertumbuhan ekonomi itu benar mungkin dalam konsep nasionalisme. Dr. I Wibowo berpendapat bahwa suatu “kegeraman historis” telah mengikat dan membuat pemimpin dan rakyat Cina untuk mengadopsi productivity culture (konsep Michael Porter yang berkaitan dengan competitive advantage of the nation). Mereka meminimalisasi perbedaan ideologis, perbedaan etnis, perbedaan-perbedaan lain, dan bahu-membahu bergerak membangun negara. Sementara Indonesia, yang juga pernah menjadi bangsa terjajah, tidak mempunyai keragaman historis yang kuat dan merata. Kerajaan Majapahit yang konon menguasai seluruh nusantara amat jarang menjadi kerangka acuan sejarah Indonesia. Selain itu, intelektual Indonesia rupanya tidak berhasil menimbulkan rasa nasionalisme yang tinggi. (hlm. 218-219)

Belajar dari Cina, akan sangat berharga bagi para pembaca, baik kalangan umum maupun kalangan akademisi. Kisah perjalanan Cina diceritakan secara lengkap dan mendetail bahkan ditambahi dengan pandangan-pandangan berbagai peneliti serta pandangan penulis sendiri. Dengan buku ini, pembaca dapat memperoleh banyak pengetahuan mengenai Cina, tentu saja dari sisi yang cenderung positif.

Gaya bahasa yang digunakan penulis pun lumayan mengalir dan mudah dipahami. Meskipun, penulis terkadang menggunakan istilah atau kata-kata asing yang tidak diterjemahkan ataupun diuraikan. Bagi kalangan akademisi yang memang sudah paham dan sering menjumpai kata tersebut pastilah paham, namun bagi kalangan umum hal ini bisa jadi cukup membingungkan.

Buat kalian yang penasaran banget sama rahasia sukses orang Cina, silahkan dibaca buku ini sebab sangat bermanfaat sekali. Kita akan belajar banyak hal dari buku ini. Koleksi ini bisa ditemukan di lantai 3 ruang FISIP Corner dengan nomor klasifikasi 330.951 Wib 1. Koleksi cuman ada 1 eksemplar, jadi buruan sebelum diambil sama yang lainya. Selamat membaca

Hits 564