140217Negeri Tiongkok memiliki kekayaan sastra yang besar. Setiap abad karya sastra semakin bertambah dan menjadi karya sastra yang merupakan sebuah unsur penting dalam kesastraan dunia. Sastra adalah cerminan apa yang ada dalam sanubari manusia. Setiap sastra pada hakikatnya perwujudan keinginan, pengharapan, khayalan atau idam-idaman penulisnya. Artinya sastra bisa dijadikan semacam pencatatan sejarah pada jamannya.

Membaca karya sastra mempunyai dua makna. Pertama, hanya sekedar mengisi waktu luang, tetapi tanpa disadari, sebenarnya kita menjelajahi dunia pikiran tokoh dan keadaan masyarakat yang dikisahkan pada masa itu. Kedua, membaca karya sastra karena ingin tahu apa yang terjadi terhadap para tokohnya. Kita membaca karya sastra karena kita ingin mempelajari keadaan masyarakat sebagaimana digambarkan oleh penulisnya. Buku ini menjadi sumbangan untuk pembaca masa kini yang ingin menambah wawasan dan menjelajahi dunia pikiran karya-karya Sastra Cina yang mulai digemari kembali dewasa ini.

Nio Joe Lan ini sang penulis menguraikan selayang pandang tentang Sastra Cina. Di  dalam buku yang terdiri atas dua puluh enam bab ini, diuraikan  kelahiran sastra itu hingga perkembangannya. Buku setebal 221 halaman ini disebut sebagai semacam buku yang berisi tentang ikhtisar sejarah Sastra Cina.  Tak salah kiranya bila penulisnya mencantumkan kata 'sepintas lalu' sebab memang buku ini tidak berpretensi menjelaskan secara tuntas, bahkan ada nama pengarang atau karya yang disebut dalam satu kalimat saja, sementara ada juga sejumlah karya yang diuraikan agak panjang lebar. Dalam hal ini, tentu Nio Joe Lan memiliki pertimbangan sendiri.

Kali pertama terbit pada tahun 1960-an, sudah barang tentu perkembangan setelah tahun-tahun itu (yang sebetulnya juga amat penting untuk dicatat) tidak tercakup di dalamnya, padahal secara historis, tahun-tahun setelah tahun 1960-an merupakan masa penting bagi Cina, khususnya Sastra Cina. Pada masa tersebut dicetuskan apa yang disebut sebagai Revolusi Kebudayaan yang menandai perubahan mendasar di Cina. Gerakan tersebut secara politis maupun kultural tentu membawa dampak yang berarti bagi kehidupan di Cina. Sastra sebagai sarana mencatat dan merespons apa yang terjadi dalam masyarakat amat berkepentingan dengan gerakan itu. Sedikit banyak apa yang terjadi pada masa itu niscaya terekam dalam karya sastra. Sayang, hal itu belum tercatat dalam buku ini. Kiranya, hal ini menjadi tugas bagi para pakar Sastra Cina untuk melanjutkan apa yang telah dirintis Nio Joe Lan.

Mengenal Sastra Cina, melalui cerita silat atau film kungfu yang hampir setiap hari ditayangkan di televisi. Dari cerita silat yang kita baca dan film kungfu yang kita tonton itu, didapatkan gambaran betapa Cina merupakan bangsa yang memiliki kekayaan budaya. Kisah-kisah yang tampil lewat cerita silat dan film kungfu itu mengungkapkan kehidupan para pendekar yang bukan saja tinggi ilmu bela dirinya, melainkan juga tinggi ilmu sastra dan
filsafatnya. Mereka --para pendekar itu-- boleh dikatakan 'sakti' luar-dalam. Demikianlah gambaran atau informasi yang kita peroleh lewat kisah para pendekar yang dikemas dalam cerita silat dan film. Namun, seperti diungkapkan Mochtar Lubis (1989:visi),
Sastra Cina tidak hanya berisi cerita silat. Sastra Cina adalah sastra yang berisi amat banyak ragam cipta sastra.

Di samping menghasilkan puisi yang jumlahnya barangkali tak tertandingi oleh negara lain, Cina juga menghasilkan ratusan ribu cerita pendek dan novel yang tentu akan 'menyulitkan' siapa pun yang akan menyusun sejarah Sastra Cina. Sebagai ilustrasi, ketika memberikan pengantar untuk bukunya yang berjudul Puisi Cina Klasik (Jakarta 1976), Sapardi Djoko Damono
memperkirakan bahwa Cina menghasilkan puisi lebih banyak daripada puisi yang ditulis bangsa-bangsa lain di dunia ini digabung menjadi satu. Perkiraan ini tentu sangat masuk akal sebab --sebagaimana kita ketahui-- Cina merupakan salah satu negara besar yang jumlah
penduduknya juga paling banyak di dunia.

Meskipun angka pastinya tidak dapat ditentukan, Sapardi Djoko Damono (halaman 5) memberikan ilustrasi yang meyakinkan bahwa perkiraan tersebut tidak mengada-ada. Dikatakannya, selama Dinasti Tang (518-906) telah lahir 2.200 penyair dengan menghasilkan 50.000 puisi. Jika jumlah itu ditambah lagi dengan cerpen dan novel, tentu akan
mencapai angka ratusan ribu. Bila digabung dengan pengarang dan karya-karya masa sebelum dan sesudah dinasti tersebut, tentu jumlahnya akan mencapai jutaan.

Sastra sendiri adalah pencerminan apa yang ada dalam sanubari manusia. Setiap sastra pada hakikatnya perwujudan keinginan, pengharapan, dan idam-idaman penulisnya. Artinya, sastra bisa dijadikan semacam pencatatan sejarah pada masanya. Membaca karya sastra mempunyai dua makna. Pertama hanya sekadar untuk mengisi waktu luang. Tetapi tanpa disadari, sebenarnya kita menjelajah dunia pikiran para tokoh dan keadaan masyarakat yang dikisahkan pada masa itu. Kedua, membaca karya sastra karena ingin tahu apa yang terjadi
terhadap para tokohnya. Kita membaca karya sastra karena kita ingin mempelajari keadaan masyarakat sebagaimana digambarkan oleh penulisnya.
Silahkan dinikmati salah satu koleksi kami yang berlokasi di koleksi kampus B, lebih tepatnya lantai 3 ruang baca umum dengan nomor 895.1 Nio s. Rasakan sensasi serunya. Selamat membaca! (Lia)

Hits 477