memoarNama lengkapnya Siti Aminah Madjid Usman-Hiroko Osada. Lahir di kota Kofu, Perfektur Yamanashi Jepang dengan nama Tsuyuko Osada, tamatan Nihon Joshi-Daigaku (Japan Women’s University). Bertemu dengan Abdoel Madjid Usman (1907-1955) sebagai aktivis pergerakan dari negeri jajahan Hindia-Belanda, Abdoel Madjid datang ke Jepang awal tahun 1933 untuk melanjutkan kuliah di Universitas Meiji di Tokyo, Jepang.  Pertemuan dengan Madjid pertama kali dengan para ahli pekerja di Tokyo sekitar tahun 1935. Keakraban berlangsung karena mempunyai keinginan dan tujuan hidup yang sama, yaitu bekerja dan berjuang demi kebaikan masyarakat. Pada akhirnya Siti Aminah memutuskan menerima Madjid untuk menikah, Di bulan Oktober 1936 Siti Aminah resmi menikah secara Islam, dan memeluk agama Islam dengan mengucap dua kalimat syahadad dengan memakai adat Minangkabau. Setelah menikah namanya menjadi Tsuyuko Madjid Usman, Nama Siti Aminah adalah pemberian dari Udo Razak, kakak Madjid yang tertua. Pada tahun 1936 keduanya ke Indonesia bertekad memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan dikaruniai empat orang anak yakni Harun El Rashid, Salmyah, Phirman dan Dahlia.

Dalam Perjalanan waktu, Madjid sekeluarga ditangkap Belanda setelah Pearl Harbour dibom Jepang di tahanan Batusangkar. Dengan berpindah-pindah ruang tahanan ke Jogjakarta kemudian ke Garut. Tepatnya di bulan Maret 1942 Madjid sekeluarga dibebaskan. Setelah kejadian itu, Madjid diminta membantu urusan mengatur masyarakat dan Siti Aminah  membantu menyelesaikan surat-surat dan mencatat pengaduan dari rakyat di daerah Priangan dan sekitarnya. Pada tahun 1942 Madjid bersama keluarganya kembali ke Padang. Setelah Mr. Kenzo menjadi Gubernur Sumatera Barat Siti Aminah ditugaskan menjadi penerjemah/ juru bahasa di Kantor Gubernur dengan tugas utama adalah mengurus surat-surat masuk, menerjemahkan dalam bahasa Jepang dan menyerahkan langsung kepada Gubernur Yano.

Dengan penuh perjuangan, keluarga Madjid bisa tinggal di Jakarta tepatnya di Jl. Bintara 47 Kebayoran Baru.. Melampaui berbagai kondisi kehidupan dengan hidup berpisah dengan anak-anak setelah suaminya meninggal secara mendadak, kehidupan Siti Aminah terombang-ambing hingga akhirnya menjadi wanita yang tegar dan menjadikan anak-anak yang mandiri.. Dalam usia 103 tahun, daya ingatnya masih kuat dan dari segi mental sangat sehat, beliau mengoreksi buku memoar ini.

Buku ini lebih banyak bercerita tentang sejarah, masa-masa berjuang bersama suaminya, sehingga layak dan seharusnya dibaca baik pelajar, pecinta sejarah kaum perempuan dan laki-laki tanpa mengenal profesi. Lebih lengkapnya bisa dibaca di Koleksi Referensi dengan call number: KKB R 920 Mem

Hits 477