mbongkar yogya

Yogyakarta adalah kota legendaris, kota nostalgia, kota budaya, kota wisata, kota pendidikan banyak predikat yang diberikan untuk Kota Yogyakarta.  Banyak hal yang dapat  menginspirasi kita ketika kaki kita menginjak di kota “Gudeg”. Seperti lagu Kla Project “Yogyakarta” menggambarkan kekhasan kota “Yogyakarta” orang duduk bersila, ramai dengan orang kaki lima yang menjajakan dagangannya dari sudut kota. Yogyakarta, potret semangat sekelompok pekerja bersepeda, beriringan dengan ibu-ibu pedagang yang berangkat menuju tengah kota. Serta senyuman yang diberikan oleh penduduk kepada pengunjung kota Yogya menunjukkan keramahtamahan penduduk Yogya. Wajah Yogyakarta selalu melekat dalam ingatan kita. Seiring dengan tata kota dan pembangunan, wajah Yogyakarta berubah tidak seperti dulu yang terkesan dengan suasana historis dan legendaris.

Kini Yogyakarta menjadi ruang ekonomi yang diperebutkan, dipenuhi dengan hotel, supermarket, mall, apartemen, kondominium dan bangunan-bangunan modern. Tidak ada ruang yang longgar untuk berjalan kaki, bahkan kemacetan sering kita temui di tengah kota. Suasana Yogyakarta seperti ini diulas dalam buku “Mbongkar Yogya”, untuk menjawab kegelisahan yang seringkali hanya berhenti dalam obrolan di warung kopi. Pusat Studi Kebudayaan UGM mengajak 17 penulis untuk menuliskan apa yang menjadi kegalauan tentang Yogyakarta dan dikumpulkan dalam sebuah antologi tulisan. Buku ini sangat menarik untuk dibaca bagi pembaca atau peneliti yang ingin melakukan kajian sejarah perkotaan. Buku “Mbongkar Yogya” dapat ditemukan di Koleksi Khusus Perpustakaan Unair Kampus B. Editor  Aprinus Salam. Nomor klasifikasi  KK-1 959.826 Mbo. Penerbit Pusat Studi Kebudayaan UGM. Tebal buku 214 halaman. Peresensi Sulistiorini

Hits 139