fara fenghibur

Judul               : Para Penghibur : Riwayat 17 Artis Masa Hindia Belanda

Pengarang       : Fandy Hutari

Golongan        : Biografi

Ukuran                        : 14 X 20 Cm

Penerbit           : Basabasi

Tahun              : 2017

Halaman          : 230 Halaman

Bahasa             : Indonesia

Cover              : Soft

ISBN               : 9786026124630

Resensor          : Yuliana Ariandini Ayuningtyas, S.IIP

Buku ini memuat 17 artis, dan tonil (sandiwara), musik dan film. Mereka mulai aktif di panggung hiburan masa Hindia Belanda (tahun 1920-an hingga 1940-an). Mereka-mereka ini saya anggap penting pada masanya. Sebagian ada yang tersingkir dan menyingkir, tapi sebagian lainnya berkarya melintas zaman.

Di masa kolonialisme Belanda, geliat berkesenian mendapatkan ruang yang cukup semarak. Ada komedi, ada Opera Stamboel, Opera Permata Stamboel, Indera Ratoe Wilhelmina, Sinar Bintang Hindia, Indera Bangsawan, dan Opera Bangsawan. Mereka melakukan banyak pementasan dan pertunjukan kesenian, sebagiannya diselingi dansa-dansa Barat yang tengah populer; ceritanya diperkaya dengan cerita-cerita realis yang sedang terjadi, seperti “ si tjonat”, “njai dasima” dan “oie tam bah sia”, juga yang bersumber dari cerita-cerita barat, seperti “hamlet”, “soeatoe saoedagar dari venetie” dan “pengantin di sorga”

Di Batavia sendiri, muncul perkumpulan kesenian Indo-Tionghoa pertama, yaitu soei ban lian pada tahun 1911. Perkumpulan ini menyajikan cerita-cerita klasik tionghoa, seperti “Ong Tiauw Koen Hoan Ho”, “Tong Tay Tjoe Tji Keng”, “Ouw Peh Tjoa”, “Sam Pek Eng Tay” dan “Sih Djin Koei”. Lalu pada 1925, terjadi gerakan pembaharuan kesenian yang merombak beberapa tradisi yang telah lazim pada zaman stambul, bangsawan dan opera.

Buku ini ditulis oleh fandy  hutari lahir di Jakarta pada 17 agustus 1984. Mulai aktif menulis di media massa pada 2008. Penulis merupakn lulusan S2 jurnalistik di institute ilmu social dan ilmu politik (IISIP), Jakarta. Mulai menulis buku pada tahun 2009, karyanya berupa sastra Indonesia mengisahkan kehidupan masyarakat Indonesia. Selain menulis buku pribadi, pernah juga menulis buku-buku proyek instansi dan perseorangan. Sempat menjadi editor di salah satu penerbitan tertua di kota bandung. Lalu, pernah pula menjadi penulis bayangan (ghostwriter) di salah satu penerbit besar di Jakarta, dan reporter di berbagai media di bandung dan Jakarta. Kini, penulis lepas dan periset sejarah. Berminat pada kajian sejarah hiburan, khususnya teater, film, dan music masa colonial.

Untuk mengurai aktivitas mereka di masa itu, penulis menelusuri jejak sejumlah artis pada masa hindia belanda. Beberapa buku dijadikan referensi dan pijakan utama. Dari berbagai perkumpulan yang berdiri, sukses besar diraih oleh dua perkumpulan yang disebutkan terakhir, indera bangsawan dan opera bangsawan. Berikut artis yang diulas dalam buku ini:

(1)Astaman, bintang panggung dan film yang disegani, (2) Dahlia, anak pemilik rombongan opera yang jadi bintang film, (3) Tang tjeng bok, si buaya keroncong dan “douglas Fairbank van java”, (4) Roekiah, bintang film terkenal dan penyanyi keroncong popular, (5) Wolly sutinah, berawal dari opera dan film klasik tionghoa, (6) Miss dja, total di panggung dan cinta Indonesia, (7) Kartolo, dari “keraton” ke panggung dan film, (8) Fifi young, peranakan prancis-tionghoa yang sukses di tonil dan film, (9) Andjar asmara, mantan wartawan yang cemerlang di tonil dan film, (10) Kisah miss riboet dan rombonganya, (11) Raden mochtar, keturunan bangsawan yang jadi bintang film, (12) s. Abdullah, penyanyi keroncong bersuara emas dicari chaplin, (13) djoemala, penjahit ke layar lebar, (14) ratna asmara, bintang film dan sutradara perempuan pertama, (15) riwayat orkes gambus syech albar, (16) pak wongso, aktivis social yang main film, dan (17) Annie Landouw, biduan tunanetra yang tenar.

Melalui buku ini kita akan dibawa kembali ke masa embrio tonil Indonesia yang muncul pada 1891. Di Batavia juga muncul perkumpulan indo-tionghoa pertama, yaitu soei ban lian yang didirikan pada 1911. Pada 1925 terjadi pembaruan oleh beberapa rombongan. Saluh satu yang menjadi perubahan, yaitu rombongan miss riboet orion yang dipimpin oleh tio tek djien dan didirikan pada 1925 di Batavia merupakan pelopor perubahan dalam dunia seni peran. Kemudian 1930, seorang wartawan tertarik pada seni panggung kemudian tertarik bergabung dalam rombongan ini. Lalu di tahun tahun berikutnya di ikuti dengan perkembangan seni music, tari hingga merambah ke dunia perfilman.

Buku ini sangat di rekomendasikan bagi anda yang memiliki jiwa penasaran. Mengisahkan sejarah dan sastra perkembangan  kebudayaan seni Indonesia di masa hindia – belanda. Buku ini digolongkan Biografi karena berisi artis-artin tempo dulu yang paling terkenal. Sehingga jika anda penasaran dengan buku ini dapat menemukanya di ruang koleksi Referensi. Buku ini dapat di temukan di perpustakaan Kampus A, B Dan C dengan no. panggil (class number) 920.059 Hut p-3. Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi poster pada masa jaya, wah kita seakan-akan dibawa kembali ke masa kolonial. Selamat membaca!

Hits 587