Scholarly Communication for Academic Librarian

79726549 1253897068112558 2217076858522959872 o

Scholarly communication atau disebut dengan komunikasi ilmiah merupakan istilah yang muncul seiring dengan maraknya hal-hal yang berbau digital dan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Istilah ini muncul berawal dari banyaknya sumber-sumber informasi yang banyak bertebaran dan adanya open access (OA) dan open science (OS) pada hasil riset dan ilmu pengetahuan di dunia. Namun, sebenarnya apa definisi yang pasti tentang komunikasi ilmiah yang sebenarnya?

Untuk memperdalam pengetahuan tentang komunikasi ilmiah maka pada hari Senin, 9 Desember 2019 Perpustakaan mendatangkan Faizuddin Harliansyah, MIM. Beliau merupakan research librarian dari Perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang selama ini fokus pada bidang komunikasi ilmiah. Kedatangan beliau untuk sharing informasi terkait komunikasi ilmiah kepada para pustakawan di UNAIR.

Bertempat di Aula Parlinah workshop ini dimulai dari pukul 09.00 WIB sampai pukul 15.30 WIB dengan dihadiri oleh pustakawan Perpustakaan UNAIR, pustakawan ruang baca fakultas staf pengajar dan mahasiswa pascasarjana. Dalam workshop tersebut pak Faiz, begitu beliau biasa disapa memaparkan tentang siklus komunikasi ilmiah. Menurut pak Faiz, scholarly communication dapat dideskripsikan sebagai semua aktivitas yang terkait dalam proses penciptaan dan penyebar-luasan ilmu pengetahuan. Mulai dari kegiatan perkuliahan (lecturing) di kelas-kelas dan tutoring di laboratorium sampai dengan meeting, symposia, conference dan lain sebagainya. Demikian juga scholarly output yang diproduksi melalui scholarly communication juga beragam, merentang mulai dari handout, modul, presentation slide, makalah, dan course material lainnya yang disampaikan dalam perkuliahan sampai dengan hasil penelitian yang intensive dan extensive seperti master’s thesis dan dissertation.

Dalam jalannya pemaparan materi, diselingi dengan tanya jawab yang berlanjut dengan diskusi yang membahas tentang komunikasi ilmiah. Selain itu, dibahas tentang traditional subscription publishing  dan Gold Open Access. Dalam traditional subscription publishing peneliti tidak mempunyai kontrol atas karyanya yang dipublikasikan di jurnal karena seluruh copyright diserahkan pada publisher. Perguruan tinggi telah mengeluarkan dana yang banyak untuk membiayai kegiatan penelitian. Namun ketika penelitian tersebut telah dipublikasikan melalui jurnal-jurnal tersebut, perguruan tinggi harus membayar untuk mendapatkan akses artikel jurnal yang berisi hasil penelitiannya. Jadi, perguruan tinggi harus mengeluarkan double pay, mengalokasikan anggaran untuk riset dan sekaligus anggaran untuk akses hasil riset.

Open access publishing merupakan salah bentuk strategi implementasi inisiatif open access dengan jalan mengembangkan penerbitan ilmiah (scholarly publishing) yang menggratiskan khalayakan untuk mengakses semua item publikasinya, baik berupa jurnal ilmiah, buku, book chapter, text book, dan lain-lain. Strategi ini juga disebut sebagai Gold Open Access. Peneliti atau penulis memang sejak awal memilih saluran penerbitan yang open access,  tetap memegang copyrights dan memberikan licence to publish kepada penerbit open access. Kemudian masyarakat dapat mengakses dengan gratis langsung dari penerbit jurnal itu sendiri, bukan dari open access repository seperti Green Open Access.

Hits 63
 
 
 

semiloka.pua2020