Tanggal 21 April adalah hari Kartini, dimana rakyat Indonesia terutama anak-anak sekolah TK dan SD merayakannya dengan menggunakan busana tradisional. Namun peringatan hari Kartini kurang lengkap jika kita tidak membaca bukunya yang menceritakan tentang biografi Kartini. Buku ini ditulis oleh Ibu Sitisumandari Soeroto. Beliau berkesan menulis tentang biografi Kartini pada saat beliau berkeinginan untuk bertemu dengan adik Almarhumah R.A. Kartini, yaitu Raden Ayu Adipati Ario Kardinah Reksonegoro yang tinggal di Kota Salatiga. Buku ini berawal dari penelitian beliau, yang meneliti riwayat Kartini setapak demi setapak dalam mencari pegangan yang meyakinkan. Ternyata cara itu menghasilkan cerita yang sedikit banyak menyerupai sebuah biografi, mulai lahirnya Kartini sampai wafatnya dan sesudahnya. Maka dengan keberanian beliau, buku ini diberi judul Kartini: Sebuah Biografi. Namun selama penulisan buku ini beliau sempat jatuh sakit cukup lama. Sehingga penyelesaian buku ini memakan waktu lama sekitar 4 tahun, antara 1972 sampai 1976. Dalam buku ini sengaja diambil banyak kutipan dari surat-surat kartini, yang belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Surat-surat Kartini (dan adik-adiknya) sebelum diserahkan kepada KITLV Leiden (tahun 1986), disimpan dan dirahasiakan oleh Keluarga E.C. Abendanon. Jumlah surat yang tersimpan tidak kurang dari 237 surat, diantaranya 108 surat-surat kartini.

Buku Kartini: Sebuah Biografi menceritakan tentang silsilah keluarga Kartini yang memiliki dua ibu, kelahiran Kartini, masa kecil, kenakalan tiga serangkai (Kartini, Rukmini, Kardinah), kecerdasan Kartini yang sudah tampak sejak kecil, kartini sebagai pemimpin saudara-saudaranya. Serta kehidupan tiga serangkai ketika dipingit, perjuangan kartini untuk emansipasi wanita dengan kaum pria, menentang poligami, sampai Kartini menikah dan wafat. Semua diceritakan secara berurutan dalam tiap-tiap bab di buku ini, yang terdiri dari 13 bab:

Bab I : Silsilah keluarga Condronegoro

Bab II : Masa kanak-kanak sampai masuk pingitan

Bab III : Empat tahun laksana dalam neraka

Bab IV : Enam tahun paling bahagia

Bab V : Masa transisi Abad XIX ke Abad XX

Bab VI : Kartini dan Haluan Etis

Bab VII : Perkenalan dengan Mr. J.H. Abendanon

Bab VIII: Peranan Van Kol

Bab IX : Tragik manusia Kartini

Bab X : Di Rembang

Bab XI : Dipanggil ke Hadirat Tuhan

Bab XII : Api Kartini pedoman kebangkitan bangsa

Bab XIII Kartini – Pahlawan Kemerdekaan Indonesia

 

Membaca buku ini kita dapat mengetahui secara gamblang tentang sisi kehidupan Kartini yang tadinya misterius dan tidak dapat dimengerti. Itu sebabnya beberapa pandangan mengenai Kartini perlu ditinjau dan dikoreksi kembali. Buku ini sangat menarik untuk dibaca, pembaca pun terhanyut ke dalam cerita karena susunan kalimat yang yang mudah dipahami oleh seluruh pembaca dan ada foto-foto semasa kehidupan Kartini. Di samping itu ada cerita yang membuat pembaca tertawa sendiri, kenakalan yang dilakukan oleh tiga serangkai semasa kecil mereka.

Di era teknologi informasi sekarang ini yang penuh dengan pengaruh-pengaruh negatif, di tengah kemerosotan moral dan berbagai kegalauan yang mengancam keutuhan bangsa dan negara, buku ini sangat menginspirasi pembaca dalam menumbuhkan nasionalisme. Karena buku ini mengingatkan pembaca tentang renungan makna ucapan Kartini: “Kami tidak mencari kebahagiaan sendiri, melainkan kebahagiaan rakyat kami. Kami tidak mengharapkan bunga mawar untuk kami sendiri!. Buku ini patut dibaca oleh para pemimpin bangsa, elit politik dan segenap putra-putri Indonesia, agar dapat (dan mau) meneladani jiwa dan semangat Kartini, sebagai seorang perintis bangsa. Dialah Putri Sejati serta Bunga Bangsa yang tulus ikhlas membaktikan seluruh hidupnya, tanpa pamrih, demi kemajuan Negara dan rakyat yang dicintainya sepenuh hati, jiwa dan raga.

Hits 1021