Karmaka Surjaudaja

Buku bergenre biografi ini menceritakan perjalanan hidup seorang Karmaka Surjaudaja yang terlahir dengan nama Kwee Tjie Hoei di Hokja, Provinsi Fujian, Tiongkok, pada tahun 1934. Karmaka Surjaudaja dipilih sebagai nama Indonesia-nya atas saran dari seorang pelukis di Bandung. Pada waktu Karmaka berumur 10 bulan, dibawa ibunya menyusul ayahnya yang bernama Kwee Tjie Kui, yang telah tinggal lebih dulu di Bandung. Orang tua Karmaka membesarkan dan mendidik Karmaka dengan baik. Ayahnya pernah bekerja sebagai guru di Bandung selama 5 tahun, ibu Karmaka juga memiliki latar belakang sebagai guru ketika masih di Tiongkok. Karmaka kecil tumbuh sebagai seorang remaja yang memiliki jiwa besar dan tanggung jawab. Ketika ayahnya sakit dan tidak dapat mencari nafkah, Karmaka memutuskan untuk berhenti sekolah dan memilih menggantikan posisi ayahnya untuk mencari nafkah meski dengan kemampuan yang terbatas. Caci maki dari sang majikan menjadi cambuk bagi Karmaka untuk menjadi manusia yang lebih baik. Setelah ayah Karmaka sembuh dari sakitnya, Karmaka kembali melanjutkan pendidikannya.

Karmaka adalah sosok yang mencintai keluarga, dia rela menunda keinginannya untuk melanjutkan kuliah ke Institut Teknologi Bandung (kampus idamannya) agar adiknya dapat melanjutkan pendidikan untuk menjadi seorang dokter. Karmaka kemudian bekerja untuk membantu membiayai kuliah adiknya. Pekerjaan apa pun dia lakoni mulai dari guru olah raga, guru les, sampai dengan buruh pabrik. Karmaka memiliki samangat kerja yang tinggi, mau belajar dan bekerja keras. Karmaka menunjukkan prestasinya di lingkungan kerja, sehingga dia mendapat tawaran yang menggiurkan dari perusahaan, mulai dari fasilitas mobil sampai dengan pendamping hidup. Tapi karena Karmaka memegang janji untuk menikahi seorang gadis yang merupakan anak perempuan Lim Khe Tjie, maka semua fasilitas itu dia tolak meski keputusannya berimplikasi pada hilangnya pekerjaan. Lim Khe Tjie adalah pemilik dari Bank NISP. Meski demikian, setelah menikah Karmaka tidak serta merta bekerja di Bank NISP. Dia melamar di pabrik tekstil NV Padasuka Majalaya untuk menopang ekonomi rumah tangganya. Lim Khe Tjie kemudian pergi ke Tiongkok, dan sepeninggalnya NISP mengalami permasalahan akibat penyalahgunaan wewenang oleh para pimpinan NISP. Demi menyelamatkan NISP, Lim Khe Tjie mengutus Karmaka untuk masuk ke NISP dan mengatasi permasalahan yang ada.

Meski Karmaka tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang keuangan, tapi mau tidak mau dia harus memegang amanah dari mertuanya itu. Bermodal dukungan dari para staf yang sayang terhadap NISP, Karmaka berjuang mati-matian untuk mengatasi permasalahan NISP. Inilah titik awal perjuangan Karmaka Surjaudaja mempertahankan NISP untuk tetap exist, berkembang, dan maju. Perjuangan Karmaka sangat menarik untuk disimak dan dijadikan inspirasi dan motivasi dalam berkarya. Banyak pengorbanan dan perjuangan yang dilakukan oleh Karmaka dalam menumbuh kembangkan NISP hingga saat ini menjadi OCBC NISP. Perjuangan yang menguras pikiran, tenaga, kesehatan, dan finansial Karmaka akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan. Kecintaan Karmaka terhadap keluarga menjadi bagian tersendiri yang memiliki kontribusi dalam mencapai kesuksesan. Meski akhirnya Karmaka harus menerima konsekuensi pengorbanan dalam bentuk menurunnya kesehatan. Dia harus melakukan dua kali transplantasi organ tubuh, di usia senja. Namun, kondisi itu disikapi Karmaka sebagai pertanda baginya untuk mempersiapkan generasi penerus NISP. Perjuangan NISP yang lebih modern diteruskan oleh anak-anak Karmaka, Pramukti dan Parwati. Buku ini dikemas dengan khas gaya tulisan Dahlan Iskan yang lugas dan jelas. Sungguh sebuah cerita perjalan hidup yang patut untuk diteladani. (Diresensi oleh Novita Dwi Anawati)

Hits 5655