Oase : Sukses Ramadhan

Sukses Ramadhan merupakan dambaan bagi setiap umat muslim di seluruh negeri. Berbagai cara dilakukan untuk menggapai arti sukses ramadhan yaitu dengan berpuasa. Definisi puasa adalah menahan diri dari segala hal yang dilarang saat berpuasa dengan niat beribadah kepada Allah SWT dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Bapak Agus Margo P. salah satu staf Perpustakaan UA didaulat menjadi narasumber Oase Ramadhan pada hari kamis (10/07/14). Beliau berbagi informasi tentang “Menggapai Predikat Pribadi Sukses Ramadhan”.

Keberhasilan berpuasa di bulan ramadhan adalah dapat menahan makan , minum, Jimak (Berhubungan suami/istri), dan semua yang membatalkan puasa. Seseorang dikatakan wajib menjalankan ibadah puasa adalah orang Islam, Baligh, berakal sehat, mampu berpuasa, dan tidak sedang dalam keadaan Haid dan Nifas. Sedangkan orang muslim yang tidak diwajibkan berpuasa adalah orang yang sedang sakit, sedang bepergian (Musyafir), Wanita Haid atau Nifas, Lansia yang tidak mampu dan hamil/ sedang menyusui. Salah satu membatalkan ibadah puasa adalah ketika suami istri melakukan Jima’/bersetubuh. Bersetubuh di malam hari itu mubah, dan malam dimulai dengan terbenam matahari sampai terbit fajar. Dahulu hukum di awal islam Dibolehkan bersetubuh di malam Ramadan selagi belum tidur. Kalau tidur, maka diharamkan bersetubuh. Meskipun bangun sebelum fajar. Kemudian Allah memberi keringanan dalam hukum ini dan Dibolehkan bersetubuh di malam Ramadan secara umum. Hal itu ada dalam firman Allah ta’ala :

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Bersetubuh termasuk pembatal yang terbesar, dan diharuskan (membayar) kafarat. Hal ini Diriwayatkan oleh Bukhari, 2600 dan Muslim, 1111. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata : "Seseorang datang kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, celakalah saya!" Beliau bertanya, “Ada apa dengan anda?" Dia menjawab, “Saya telah berhubungan intim dengan istri sementara saya dalam kondisi berpuasa (Di bulan Ramadan)," Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallalm bertanya, “Apakah anda dapatkan budak (untuk dimerdekakan)?" Dia menjawab, “Tidak." Beliau bertanya, “Apakah anda mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?" Dia menjawab, “Tidak." Beliau bertanya, “Apakah anda dapatkan makanan unttuk memberi makan kepada enampuluh orang miskin?" Dia menjawab, “Tidak." Kemudian ada orang Anshar datang dengan membawa tempat besar di dalamnya ada kurmanya. Beliau bersabda, “Pergilah dan bershadaqahlah dengannya." Orang tadi berkata, “Apakah ada yang lebih miskin dari diriku wahai Rasulullah? Demi Allah yang mengutus anda dengan kebenaran, tidak ada yang lebih membutuhkan diantara dua desa dibandingkan dengan keluargaku." Kemudian beliau mengatakan, “Pergilah dan beri makanan keluarga anda.”

Dengan berpuasa, orang mukmin belajar bersabar dan menahan hawa nafsu. Berubahlah 1 % dalam sehari maka Anda akan mendapatkan 30% selamat bulan Ramadhan.

Hits 1626